Pentingnya Observasi yang Matang (menanggapi isu yang beberapa waktu lalu booming)



Pernah gak sih kalian berpikir bahwa hal yang kita anggap benar itu sebenernya kurang benar? Aku hanya ingin menanggapi isu yang beberapa waktu lalu sempat booming. Pertikaian yang terjadi di 2 kota di Jawa Timur dengan masyarakat suku lain.

Tadi siang pulang dari kampus. Seperti biasa aku lewat jalan tikus, menghindari macet berkepanjangan. Meskipun pada akhirnya harus lewat jalan raya juga sih.

Aku kalau di jalan suka sekali noleh sana-sini. Tapi tetep fokus jalan dong.

Pas aku sudah di ujung jalan, yang artinya sebentar lagi sudah memasuki jalan raya, aku menemui pertigaan. Dari belakang sudah ada suara motor yang di bleyer-bleyer kencang sekali. Aku mencoba tenang saja, meskipun sebenarnya sangat tidak nyaman untuk di dengar. Kupikir sudah sering seperti itu, memang. Aku menunggu motor dari jalan sebelah kiri untuk menyebrang, berhentilah aku sebentar di tengah. Beberapa saat kemudian ketika motor itu sudah menyebrang, aku ingin menyebrang juga ke arah depan. Kok tiba-tiba motor yang tadi suaranya kenceng banget nyalip dari kanan, dan sangat mepet dengan motorku. Dia melaju kencang sekali. Nyaris saja motorku oleng karenanya. Dia seorang laki-laki. Menggunakan motor tua sekitar tahun 70-an. Sedangkan style-nya santai dengan topi casual dan jaket denim. Tidak mengenakan helm pastinya. Pokoknya safety-nya sangat minim. Mungkin dia seorang mahasiswa, kelihatannya begitu. Dan yang membuatku heran adalah, dia sepertinya berasal dari suku yang sedang booming bully-an pada saat ini.

Banyak sekali pengalaman yang tidak membuatku nyaman. Bahkan aku sering menemui beberapa orang dari mereka tidak taat peraturan lalu lintas. Tidak menggunakan helm ketika berkendara (padahal melintas di jalan raya dekat pos polisi), menyalip dari kiri (ketika jalan sudah terlampau sempit dan macet), dan ada beberapa hal yang mungkin kurang nyaman, apalagi disini adalah tempat yang menjunjung tinggi etika, meskipun juga banyak oknum yang ngawur. Namun diluar sana seperti mereka sendiri yang mendapatkan ketidak-adilan. Aku juga merasakan ketidak adilan ketika hal buruk terjadi padaku saat itu. Padahal hal itu mungkin terjadi kepada beberapa orang, tidak seluruhnya. Boleh jadi hal buruk yang terjadi juga karena ulahmu sendiri. Bertindak se-enaknya, tidak berhati-hati maupun ngawur.

Tapi hal yang disadari banyak orang adalah mereka merasa yang paling tertindas. Dengan berbagai macam berita yang menjurus pada ketertindasan mereka yang membuat pemilik daerah lain terkutuk. Contohnya seperti kejadian di 2 kota di Jawa Timur beberapa waktu lalu. Akhirnya membuat kedua citra kota tersebut menjadi buruk se-Indonesia. Banyak orang menyalahkan dan menyayangkan hal tersebut karena berita-berita yang membesar-besarkan kejadian itu. Hal itu didasari kurangnya observasi langsung di tempat kejadian. Meskipun orang-orang sini memungkinkan untuk melakukan pem-bully-an terhadap mereka. Tapi hal itu juga dirasakan warga setempat, tentang ketidak adilan yang mereka lakukan. Meskipun juga beberapa oknum yang melakukan hal tersebut. Banyak orang juga yang membela mereka  dan mengutuk orang yang disini. Padahal disini juga aman-aman saja ketika mereka juga berbuat baik. Masa ada orang yang tiba menyerang tanpa alasan kalau tidak lawannya yang membuat ulah? Think again.

Lalu, apa maksudnya aku menulis tentang ini?
Biar kita paham bahwa hal yang mungkin kita anggap benar belum seratus persen benar. Jangan salah membela sesuai dengan kabar burung. Lihat situasinya selama ini. Apakah memang benar demikian, atau itu hanya terjadi pada saat kejadian? Hal yang perlu digaris bawahi adalah; jangan merasa diri paling tertindas. Jangan pula merasa diri paling baik. Lihatlah sesuatu sesuai dengan observasi yang matang. Jangan semena-mena membela yang sedang tertindas. Bisa jadi itu hanyalah kecohan agar dia dibela. Biasa-biasa saja. Tapi ingat, semua dari kita adalah saudara. Saling menghormati dan berbagi layaknya keluarga. Bukan bertindak se-enaknya dimanapun dia berada, merasa diri paling tinggi tingkatannya. Bahkan ketika kita berada di jabatan paling tinggi pun jangan merasa paling benar.

Hal ini bukan hanya berlaku dalam aspek bermasyarakat saja, akan tetapi toleransi tinggi terhadap apapun. Semua mahluk memiliki hak yang tidak dapat diganggu. Bukan berarti sesuatu atau sesorang yang terlihat lemah tidak memiliki hak untuk senang ataupun aman di suatu tempat. Kita juga harus menjunjung tinggi hak mereka untuk hidup berdampingan dengan aman dimanapun berada. Jadi, saling menghormatilah diantara kalian, termasuk nasihat untukku juga agar tidak se-enaknya sendiri. Apalagi ketika berkunjung ke daerah-daerah yang memiliki perbedaan adat kebiasaan. Cukup ya ^^

Salam damai dan sejahtera, thankyou.

Komentar