Aku hanya ingin berbagi cerita. Rasanya seperti ditampar bertubi-tubi. Namun hal ini juga mungkin dapat memberi gambaran pada pembaca bahwa semua orang memiliki kemampuan masing-masing. Dimana mereka harus berjuang keras untuk menggapai hal-hal yang baik. Selamat membaca ^^
Sebelum sholat isya tadi, seorang temanku, Cahya, menelponku karena aku bertanya sesuatu padanya kemarin (9/9). Dia adalah teman lama yang sekarang menetap di salah satu pondok pesantren. Aku bertanya padanya tentang fiqh sholat jama' qoshor yang belum aku paham betul. Meskipun sudah lumayan dipahamkan berkat Bambang, salah satu temanku yang berasal dari tempat yang jauh, aku hanya memastikan jika aku 'pas' dan 'sreg' dengan jawaban tentang itu.
Setelah 2 hari sebelumnya aku memberondong Cahya dengan beberapa pertanyaan, ia pun baru bisa menjawabnya sore tadi lewat chat whatsapp. "Jadi gini Bel, blablabla...," Cahya mengetik lumayan panjang yang berakhir dengan aku yang meneleponnya. Ketika teleponku diangkat, dia menjelaskan bahwa sholat jama' dan qoshor berbeda tata cara saja. Secara syarat hampir sama. Sedangkan jawaban Bambang kemarin juga sama padaku. Jadi aku sudah lega mendengarnya. Alhamdulillaah.
Namun percakapanku dengan Cahya tidak berakhir sampai disitu. Biasanya kami suka melempar ejekan satu sama lain. Apalagi dia yang suka meledekku dengan hal-hal fisik seperti gendut dan lain-lain. Memang hal itu benar, tapi kadang aku juga sebal. Seringkali juga kami saling menanyakan kabar satu sama lain. Dia menjadi pengurus di pesantren yang ia tinggali sekarang. Konon katanya, dia juga ikut mengajar disana.
Cahya adalah teman lamaku di SMA. Kami jarang sekali bertemu. Seringnya chat lewat whatsapp, paling mentok video call, itu pun sebentar. Dan itu amat sangat jarang sekali.
"Gak ngajar?," tanyaku padanya lewat telepon. "Masih agak nanti," jawabnya di seberang sana. "Kuliahmu tinggal setahun ya?,". Entah kenapa pertanyaan itu mencelos begitu saja. Terdengar Cahya tertawa di seberang sana. Seperti biasa, dia memang suka sekali memutar otakku. "Sudahlah, aku tinggal tunggu wisuda. Diam saja jangan bilang-bilang," katanya sambil tertawa. Sungguh kaget aku dibuatnya. Padahal sepertinya baru beberapa bulan dia bilang baru masuk kuliah. Itu pun setelah aku paksa berkali-kali baru mengaku. Tak tahu juga kenapa aku sangat penasaran akan hal itu. Sampai aku bingung sendiri. "Anjir, sumpah? Gak.. gak.. gak percaya, ojo mbujuk (jangan bohong). Kemarin kamu bilang masih semester 5 lho," ujarku dengan logat Jawa yang medok dan agak ngotot. Saking kagetnya. "Ya ini tinggal sidang," jawabnya lalu tertawa terbahak-bahak. 'Aku selalu di kerjain,' pikirku.
Beberapa kali aku mencoba bertanya bagaimana caranya dia bisa begitu, berkali-kali pula dia selalu mengelak. "Sek talah, aku beneran penasaran. Gimana bisa seperti itu? Kamu kuliah mulai kapan sih?," aku tetap ngotot padanya. "Jangan ngurusin aku, jangan penasaran terus. Urus kuliahmu, cepat selesaikan," jawabnya disana sambil tertawa kecil.
Aku tahu aku sudah menginjak semester tua, tapi aku masih sangat penasaran bagaimana dia bisa melakukan hal itu. Apa dia secerdas Albert Einstein? Atau tokoh-tokoh cendekiawan lain?
"Ya aku tahu, tapi please kasih tahu. Kok bisa loh kok bisaaaaaaa... Pasti kamu dapat rekomendasi dari kyai kan?," kataku mulai emosi, nyerocos, dan mendesaknya dengan pertanyaan-pertanyaan seputar hal itu. "Diam dulu, dengerin aku," ujar Cahya serius dan memotong pembicaraanku. "Mondok dan kuliah itu cuma masalah biasa. Tapi apa yang dicari dari semua itu? Ahlak yang baik. Kalau kamu ingin semua lancar maka ahlakmu dijaga. Dari semua itu kamu bakal menemukan, setidaknya semua akan berjalan apa adanya. Itu bukanlah hal penting, jangan terlalu dipikirkan. Selesaikan kuliahmu," lanjutnya yang akhirnya membuatku bengong beberapa saat. Setelah sadar, aku kembali mendesaknya untuk mengatakan cara dia bisa melakukan itu semua. Kuliah dengan cepat ataupun kuliah secara diam-diam. Tapi tetap saja dia bersikeras tidak ingin menjawab dan hanya mengecohku. Seringkali dia hanya tertawa puas disana. Menyebalkan sekali bukan?
Mungkin hal yang membuatku penasaran akan pendidikannya adalah ketika aku berbangga diri masuk ke salah satu universitas disini. Dengan PeDenya aku suka berbagi gambar atau keseruan cerita akan hari-hariku selama belajar di kampus. Sedangkan dia? Aku tak tahu kapan dia mulai kuliah. Dia tak pernah berbagi apapun di sosial media atau bahkan sekedar cerita. Padahal biasanya dia sering memberitahu tentang keadaannya padaku. Namun mengapa hal ini tidak? Aku hanya mendapat beberapa clue. Itu pun dari teman lain.
Akhirnya beberapa saat ketika aku memaksanya menjawab, dia menutup teleponku tanpa salam. Entah mengapa saat itu tiba-tiba kepalaku jadi pusing. Hatiku rasanya seperti ingin meledak. Aku tak tahu apa yang ku rasakan. Mungkin kalian berpikir ini hal yang 'lebay'. Tapi apa yang kurasa semata-mata karena malu pada diri sendiri. Aku teringat beberapa kali dia menjadi kurus karena amalan yang mengharuskan dia sering puasa, katanya dulu. Aku juga teringat beberapa hal yang ia ceritakan dalam kesehariannya, dulu juga. Berusaha untuk qiyaamul lail contohnya. Beberapa kali juga mencoba membangunkanku, tapi dasar aku yang susah bangun. Hal lainnya adalah ketika dia memutuskan untuk pergi nyantren, dulu dan dulu sekali setelah lulus dari sekolah. Hal yang jarang terpikirkan oleh remaja lulus SMA. Dan itu adalah awal dia berusaha maksimal untuk memperdalam ilmunya. Setelah beberapa saat menjadi santri disana, dia juga diminta untuk menghidup-hidupkan suasana pesantren. Bahasa lainnya dia disuruh mengabdi disana. Padahal biasanya hal itu untuk santri-santri yang sudah lama mondok. Berarti eksistensinya disana bisa disebut 'lumayan' kan? Untuk porsi orang sepertiku, mungkin. Namun dia tak sedikitpun membanggakan itu. Merasa itu bukan hal yang terlalu penting untuk diketahui orang lain, termasuk aku.
Sedangkan aku? Aku coba memutar otak lagi mengingat tentang apa yang sudah ku lakukan beberapa waktu ke belakang. Sering malas-malasan, jarang berbenah diri, bahkan untuk merawat diri sendiri pun sering malas. Tidak serius dan istiqomah dalam belajar. Ibadah apalagi. Sering menunda waktu sholat, jarang ingat dzikir, sholat sunnah pun sangat jarang sekali, membaca al-Qur'an itu kalau ingat. Mondok pun tidak. Astaghfirullohaladziim, aku. Itu pun dengan PeDenya aku katakan pada ibu kalau semester depan aku akan wisuda. Senangnya aku ketika mengatakan hal itu. Namun jika dilihat-lihat, aku ini apa? Gak berguna, gak mutu. Apa yang perlu dibanggakan dari sebuah acara wisuda, yang nilaiku pun tidak seberapa. Aku tak percaya kalau nilaiku akan cumlaude. Apa yang perlu dibanggakan dari itu?
Seketika kepalaku pusing dan malu rasanya pada Cahya. Aku juga sering mengejeknya ketika aku bisa memenangkan sebuah percakapan, ketika kami sedang berdiskusi hal-hal serius. Contohnya tentang poligami. Dia suka sekali menggodaku dengan kata 'poligami'. Berdiskusi dan saling melempar argumen yang kukuh oleh masing-masing. Mungkin dia hanya ingin membuatku sebal karena aku bukan orang yang suka dengan hal-hal semacam itu. Lantas, aku bangga akan kemenangan yang aneh itu? Ketika hanya memenangkan sebuah diskusi maka aku adalah orang yang hebat? Pikiran-pikiran itu terus melintas di benakku. Apa hal ini yang pantas untuk berbangga diri? Apa aku memang pantas?
Aku sempat berpikir aku tidak ingin ngobrol dengan Cahya lagi, bahkan untuk bertemu. Merasa sangat malu sekali pada diriku atas apa yang selama ini aku kejar. Bahkan untuk bercermin di kaca aku malu melihat wajahku sendiri dan melengos darinya.
Cahya yang bisa segalanya pun biasa saja dengan gelar yang akan di dapat nanti. Haha. Aku ini ngapain aja sih?
Tapi hidup akan selalu berlanjut. Bodoh sekali jika aku hanya duduk diam dan menertawai diriku sendiri yang sekarang dibuat malu sampai ubun-ubun oleh Cahya. Meskipun aku kurang paham betul dengan nasihatnya padaku sebelum menutup telepon, tentang ahlak yang baik. Namun dari sana aku paham bahwa dunia tak selamanya indah. Jangan berbangga diri atas hal yang sudah digapai. Belum tentu itu akan baik untukmu. Jangan juga memandang orang lain lebih rendah daripadamu. Hal itu akan membinasakan dirimu sendiri. Tetaplah berbuat hal yang positif, jangan sampai kamu sakit dan kecewa atas apa yang telah kamu kerjakan. Stay positive, youre amazing today and forever :) —salam, Bellgisav.

Okay,
BalasHapusashiaap
HapusBagus bel, lanjutkan lagi
BalasHapusKontennya yang lebih menarik dan kekinian akan menambah gairah membaca para pembaca😁
Hehe. Terimakasih support nya. InshaaAlloh, doakan selalu adik ini 😘😘😘
Hapus