Rahasia Seorang Tolem


Beberapa tahun lalu, ketika aku menginjak semester 5. Seorang teman lama, namun baru kenal (aku orangnya agak sombong :v). Namanya Tolem. Dengan senyumnya yang lebar, giginya tersusun rapi, putih, namun ukurannya besar-besar. Ia sesekali melepas kacamata dengan frame hitam yang kebesaran. Alasannya ingin terlihat keren. Kami akrab ketika suatu saat temanku satunya, Ning, suka mengobrol dengannya. Tentang segala hal. Karena Ning ini sangat heboh dan asik, banyak teman laki-laki yang dekat dengannya. Ning mencoba menggodaku dengan Tolem. Dulu Tolem pernah bilang ketika acara jurusan kami, "Bel, style mu lucu," tuturnya sambil ketawa nyengir. Apa maksudnya juga tak tau, waktu itu. Jadi aku merasa ilfeel dengannya. Sedangakan Ning juga menatapku, tentunya waktu itu sangat menjengkelkan.

Semakin hari kami tambah dekat. Dengan banyak cerita. Ternyata Tolem senang bergaul dengan perempuan. Entah kenapa. Katanya, dari kecil memang cenderung kesana. Dia sendiri juga tak tahu mengapa selalu begitu. Memang, Tolem orangnya selengekan. Kadang terlalu mengumbar senyum. Kadang juga bikin ketawa karena senyumnya, atau ketawanya. Suka gak jelas gitu.

Suatu hari Tolem bercerita. Ada aku dan Ning. Tolem suka seseorang, teman kami juga. Namanya Ai. Menurutnya, dia cantik. Padahal Ai sebenarnya selengekan juga. Kalau di depan laki-laki dia sok kalem. Tapi kalau kumpul bersama geng-nya... Aww. Singa sih lewat, liarnya.

Di tengah-tengah asiknya pembicaraan kami, Ai datang dengan Cahya. Tolem seketika terkesiap, malu-malu. Padahal sedari tadi dia ngoceh melulu tentang Ai. Aku yang berusaha memecahkan suasana, ku goda dia. "Koe iki, ada anaknya kok malah diem. Ngapain dari tadi ngomong terus. Iki, orangnya wes disini. Noob(cupu) lu," kataku sambil tertawa. Wajahnya semakin merah dan ia tertunduk. Namun Ai tidak terlalu menggubrisnya. Malangnya nasibmu Lem Tolem.

Pernah suatu ketika. Aku, Ning dan Tolem mengerjakan tugas kuliah. Di perpustakaan lantai 2, pojok sebelah kanan. Tiba-tiba datang temanku, Neni. "Aku ngajak Ai loh. Tapi gatau dia kemana tadi," ujar Neni sambil menggeret kursi warna kuning ke meja kami. Entah mengapa mulutku mencelos begitu saja, secara spontan sambil melihat ke arah Tolem. "Duh. Jiwa bucinku bergetar," kataku. Tolem seketika menunduk. Tampak jelas dia jengkel padaku, tapi tak tersampaikan. Ning? Jangan tanya. Ketawanya tak dapat di kondisikan.

Yah, sedikit gambaran. Ning adalah anak yang lumayan cerdas dan dewasa, banyak childish-nya sih. Ketawanya keras sekali. Kalau ngakak, bikin orang malu. Apapun terasa lucu kalau dengannya. Bukan karena cerita lucu, karena ketawanya yang bikin orang lain ketawa. Dia suka hal-hal yang menantang. Termasuk punya hubungan gelap dengan orang yang berpengaruh. Hayoo... Tapi Tolem lebih lucu. Punya perasaan dengan orang. Yang di suka sudah tau, tapi dia tetep malu. Gak berani ngomong. Padahal sudah beribu gas CO2 keluar dari mulutku (alias ngoceh), hanya untuk membuatnya berani. "Wong cuma bilang 'aku suka' aja kok repot ae Lem Tolem," ujarku di tengah-tengah curhatan Tolem.

Hal-hal yang jarang diketahui khalayak umum, tentang Tolem. Dia sering sekali gabut, nama lain dari bosen. Mungkin akibat dia jomblo. Miris. Gemasnya, dia seringkali mengganggu waktu tidurku maupun Ning. Tiba-tiba menelpon kami via Whatsapp tanpa sebab. Kalau ditanya kenapa nelpon, selalu jawabnya, "Gakpapa. Kangen". Bagaimana kami harus menanggapinya? Antara sebal, tapi kasihan. Suaranya terdengar lesu dan lemas. Tapi kalau sudah sampai tengah pembicaraan, kata-kata mutiara yang keluar. Contohnya : anjir, kampret, dan masih banyak kata sampah lainnya. Kotor (jangan berpikir jorok).

Namun dibalik itu semua, aku dan Ning sayang padanya. Sudah seperti peliharaan di rumah. Di perhatikan, di dengarkan, di turuti apa maunya. Kadang kalau tak ada dia rasanya sepi. Hening. Bikin kangen. Kangen kalau dia ngomong 'goblok'. Mantep sekali. Apalagi kalau mau ngatain aku. Urat nadinya sampai keluar. Saking semangatnya.

Itulah beberapa hal yang membawaku punya teman baru. Hingga sekarang, Tolem sangat akrab denganku, maupun Ning. Kami bertiga tak memiliki grup atau bikin geng. Tapi yang jelas, dibalik segala hiruk pikuk dunia, kami memiliki banyak hal untuk dibincangkan. Terutama topik tentang hubungan asmara teman satu angkatan. Meskipun salah satu dari kami sudah taken alias laku, kami masih sering berhubungan. Kalau mem-bully Tolem... Sudah makanan wajib. Hahaha. Maaf yaa Tolem, tapi aku sayang kamu kok ^^

Hal yang disayangkan dari tulisan ini adalah ; kami tak pernah foto bersama. Sekian.

Komentar