"Dia keren loh" ; "Wih cantik/ganteng banget, siapa tu?" ; "MashaaAlloh, kamu terbaik deh" ; "Yaampun pinter banget sih" ; "Iya ustadz/ustadzah". Siapa sih yang nggak suka kalo dipuji, disanjung, dihormati?
Well, manusia sangat lumrah untuk tersanjung (bukan nama sinetron). Manusia pun lumrah untuk baper ataupun tersipu kalo dipuji. Itu sifat asli manusia. Tidak bisa dipungkiri, kita semua pasti punya sifat tersebut. Jadi kalau kalian merasakannya, enjoy it. Bersyukur masih ada yang mau muji kita. Even itu maksudnya buruk, setidaknya kita masih diberi kebagusan dari Alloh/Tuhan. Apa aku salah?
But first of all. Bagaimana jika syukur kita terhadap pujian itu kurang? Maksudku disini, ketika kita dipuji malah makin mendongakkan kepala. Mungkin dengan berpikiran seperti, 'Ah.. aku emang keren' ; 'Yaiyalah, aku cantik/ganteng dari lahir gimana si', atau dengan segala macam pikiran yang seperti itu.
Memang susah untuk mengendalikan nafsu. Apalagi dengan sifat kemanusiaan yang semacam itu, kita makin sering lalai karenanya. Pujian, sanjungan, bahkan gelar yang diberikan pada kita seringkali bikin lupa. Lupa kalau sebenernya kita itu lebih buruk dari anak kambing kecil, cacat, dan mati. Loh kok bisa? Dalam Islam, Rosululloh SAW pernah bersabda ketika beliau berkunjung ke pasar. Rosul melihat bangkai anak kambing kecil yang cacat telinganya, ia dikerumuni banyak orang. Bertanyalah Rosululloh kepada orang-orang disana, "Siapa yang ingin memiliki bangkai kambing ini dengan harga satu dirham?". Tidak ada satupun orang yang menginginkannya meskipun harganya sangat murah. Maka Rosululloh bersabda, "Sesungguhnya dunia ini lebih hina dan rendah bagi Alloh daripada kambing ini untuk kalian," (H.R. Muslim 8 / 210-211)
Lalu, apa hubungannya?
Dunia saja lebih buruk dari bangkai kambing yang cacat, apalagi kita? Betapa hina dan rendahnya diri ini dihadapan Tuhan, Alloh. Ketika kita senang secara berlebihan dengan pujian orang, lalu lalai karenanya. Apa yang disombongkan? Diri ini tidak memiliki apapun. Janganlah menikmati dunia secara berlebihan. Boleh jadi dia menyesatkan. Karena kedudukan kita sama di bumi ini. Bahkan diri ini juga bukan milik diri sendiri.
Pangkat, harta, pujian, hanyalah bentuk ujian yang diberikan. Bagaimana untuk kuat menghadapi ujian dalam bentuk kebahagiaan. Bersyukur, ikhlas, dan sabar. Mudah untuk mengucapkannya, namun sulit untuk mengamalkannya. Apalah arti semua kebahagiaan itu jika hanya baik di mata manusia, namun hina di hadapan Tuhannya? Selain itu, banyak orang-orang yang berbangga diri atas kelebihan dirinya (termasuk aku). Untuk apa? Pasti kedudukan di hadapan manusia.
Think again. Orang lain akan tau kebaikan yang lain tanpa perlu mengatakannya. Pun juga akan mengetahui tentang keburukan jika yang lain melakukannya. Mungkin keburukan yang lebih cepat menyebar —hehe. Bahkan nih, kelebihan pun dapat menjadi keburukan jika itu dikatakan oleh diri kepada orang lain. Misalnya : "Aku ini seorang sufi, aku taat pada agamaku. Nasabku tinggi hingga ke wali,". Atau hal lain, "Aku punya beberapa kendaraan. Biasanya aku pakai untuk pergi kesana kemari. Daripada tidak terpakai dan mubadzir, lebih baik ku gunakan untuk hal bermanfaat. Bukan begitu?". Bagaimana tanggapan orang lain yang mendengar? Mungkin sebagian percaya, jika mereka orang yang sama-sama juhal (bodoh). Atau hal lain, mereka tau kalau kita memiliki harta banyak. Namun jika itu terdengar oleh orang yang paham, pasti mikirnya, 'Halah ngibul' atau 'Haduh ngomong apasih?
See? Siapa yang harus disalahkan, bukannya diri sendiri? Hihi...
Perlukah kita merasa bangga diri? Ketika memiliki paras cantik, ilmu tinggi, dan pangkat yang tinggi, ingatlah itu sebagai ujian. Manusia. Ketika di uji dengan kesedihan, dia sering mengeluh kepada Tuhannya. Menangis setiap malam meminta ridho Tuhannya. Hey, itu sudah banyak cerita. Namun bagaimana ketika diuji dengan kebahagiaan? Bisakah untuk tetap bersyukur meminta ridho Alloh? Tak banyak yang bisa melakukannya. Tapi ingatlah, yang begitu adalah lebih mulia daripada orang miskin yang pandai bersyukur ^^
Mari sama-sama belajar. Memperbaiki diri, mengingat Alloh, bersabar, syukur dan ikhlas. Bukan disini saling menggurui, namun melangkah bersama dan saling mengingatkan. Kali aja lupa di tengah jalan ;)
Lalu bagaimana solusinya?
Aha.. Manusia memang tempatnya salah. Dimanapun berada dia pasti berbuat salah. Meski dia nabi sekalipun (tapi yang pasti porsinya beda sama kita-kita ini lah yaw). Manusia pun juga suka pujian karena pujian adalah seuatu bentuk kebaikan. Tapi berupayalah. Ketika dipuji ucapkan 'Laa haula wa laa quwwata illa billah' - 'Tidak ada daya, upaya, dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Alloh SWT'. Selain itu ingat. Tujuan kita di dunia bukan mencari kedudukan di mata manusia, tapi mencari ridho Alloh tanpa merendahkan manusia lain. Semoga bermanfaat :)

Uuuuuunch panutanque
BalasHapuswkwkwk, sopo iki
HapusUlulululu
BalasHapusMasyaallah 💞
BalasHapus❤️❤️❤️
Hapus👍👍👍👍
BalasHapus