Akibat Bucin 'Ngopi'







Sore ini jadwalku kembali menuju peradaban. Aku adalah anak magang di salah satu kantor penerbitan koran di Surabaya, Duta Masyarakat. Alasan aku kembali pada jam yang sangat mepet adalah :
1. Pagi tadi hingga siang janjian dengan temanku, Inas, untuk pergi makan bakso di Kalisongo, Dau.
2. Siangnya, aku ada janji dengan teman juga. Namanya Eli dan Nada. Duo Arab yang dari SD yang kadang suka bully-bullyan, hingga sekarang makin parah. Namun batal. Karena kempetan waktu dan Eli sedang menjaga warungnya di dekat Alun-alun, Warung Makan Madinah (jangan lupa fee udah di promosiin wkwk).
3. Rencananya, malemnya diajak ngopi. Teman juga, temannya mantan. Haha. Namanya Alwi. Orangnya selengekan tapi baik hati. Syarat jadi temannya adalah : jangan gampang baper. Kalo baper, siap-siap jadi bulan-bulanan wkwk.
Eh tak disangka, jalan menuju terminal Arjosari super macet. Ditambah ambulance dan konon ada menteri yang datang. Kata bapak dengan posisi di depan, memboncengku dari rumah hingga ke lokasi.

Sesampainya di dalam terminal, aku langsung lari menuju pemberhentian bis. Kata bapakku tadi, jika naik bis patas posisinya sebelah kiri dekat gerbang. Aku langsung fokus menuju bis patas berwarna hijau yang tepat diparkir di sebelah gerbang. Restu, nama armadanya.
Aku masuk bis, disambut dengan mas kernet yang hitam manis dengan topi snapbacknya. "Kursinya habis mbak, tinggal di depan," tuturnya. Yang dimaksud adalah kursi kernet yang berada di depan. Letaknya di pojok kiri depan, belakang dasbor, dan di sebelah kanan pintu masuk depan. Tak usah pikir panjang langsung ku iya-kan. Sebab, kalau aku mengambil jadwal bis selanjutnya, bisa-bisa aku gagal ngopi. Kan sayang, mungkin saja ini malam ngopi gratisku. Hehe.

Ngobrol dengan mas kernet yg sepertinya namanya Agung, karena bapak sopir mengatakan 'Gung.. Gung..' sejak awal pemberangkatan. Dia bingung. Antara mengajakku ngobrol dengan bahasa Jawa atau Indonesia. Karena baju yang kupakai adalah baju yang 'sok' kota. Dengan gamis garis-garis berbahan kaos, memakai outer berwarna beige, jilbab panjang biru, sepatu sneaker, dan memakai masker. Tampak diriku yang 'gaya tok' kata orang Jawa Timur bilang. Ah, aku salah kostum rupanya!

Selama perjalanan, banyak orang dari luar bis, apa masih ada kursi kosong? Bolak-balik. Bukan hanya satu orang. Namun bis patas dilarang untuk menambah penumpang jika kursi sudah full. Bisa dikatakan juga aku ini penumpang mandiri alias jalur seselan haha. Bahkan beberapa mbak-mbak nekat maksa minta ingin berdiri. Mas kernet menjawab dengan santai "Ngadek nang Suroboyo yo lumayan sikil e. Ayune ngkuk ilang mbak," tuturnya dengan kocak.

Duduk di depan enak. Aku yg biasanya mabuk jadi gak mabuk. Tapi ganti masuk angin. Dingin banget. Ac dua-duanya menghadap penumpang, alias aku. Biasanya sih langsung ku hindarkan kedua bilik ac ke arah yg berlawanan. Kali ini gagal, karena posisinya tepat di atasku dan terlalu tinggi. Ugh, betapa berat cobaan hidup mas kernet. Loh?

Jalanan super macet di sekitar terminal Arjosari. Rencananya, bis kami akan melewati tol Karanglo-Waru. Bis yang ku tumpangi kemarin, Kamis (27/6/19) mencapai satu jam perjalanan dari terminal Surabaya ke Malang. Padahal kalau tidak lewat tol bisa 4 jam. Apalagi macet, bisa masak rawon segala dipinggir jalan. Duh, lamanyaa...

Baru masuk pintu tol, terdengar samar-samar penumpang di belakang ngorok. Padahal asli, ac nya dingin banget. Ada juga mobil polisi mengawal ambulance. Sepertinya dari pihak keamanan negara. Karna warnanya hijau, dan beda dari ambulance biasanya. Hmmm, semakin malam semakin banyak yang menarik rupanya.

Mekipun aku cuma duduk di kursi depan dan main hp, aku juga suka mengamati jalan di depan. Sesekali. Banyak lampu mobil yang terang dari belakang. Ada juga pantat bis atau truck yang kadang bertuliskan kata aneh-aneh. Lucu. Untuk ukuran diriku yang sedang gabut, jomblo lagi (ups).

Suasana mencekam pun mulai hadir. Banyak yang bilang bis Restu itu 'Raja Jalanan', kok bisa? Jadi yang aku rasain, bisnya bolak balik ambil jalur kanan, trus kiri, trus kanan lagi, trus kiri lagi. Seperti itu terus-terusan. Bis melaju dengan kecepatan 90-100km/jam. Kadang turun hingga 70. Tapi lumayan kalo duduk depan. A whole new woooorrrllldd (yang nyanyi di jitak malaikat loh). Aku yang sedari tadi mikir, apa kendaraan di belakang tuh gak bingung? Tapi... ah masabodo. Aku naiknya seru, meski kedinginan. Udah kayak di Batu waktu pagi. Uadem njejep, alias dingiiiiiiin banget. Kata orang Batu sih gitu.

Ku syukuri dengan banyak lapis baju yang ku kenakan. Ku kira bakal kepanasan. Eh ternyata bermanfaat selama perjalanan. Ketika tangan mulai kaku, membeku. Aduh, rasanya mengetik teks saja susah. Selain itu, ku syukuri juga tugas dari redaksi yang sudah ku kerjakan tadi siang. Kalau belum, apa jadinya aku nanti kalau sudah ngantuk? Pasti males. Pol wes. Akhirnya, gak jadi ngopi. Hmmm... Syukurlah. Perjalanan kali ini lumayan seru. Intinya, aku balik cepat karena memburu kopi. FYI (For Your Information). Hingga bacotan unfaedah ini di publish, aku belum sampai Surabaya loh gais. Doanya yaa :*

Komentar

  1. Hehehe terimakasih banyaak ^^

    BalasHapus
  2. Aku sueneng moco diksine cah MBATU.
    - Kemepeten
    - Uaden Njejep
    Opomaneh masak rawon.. Hahah lumayan lah malang srby warek ndk embong mbak 😂
    Mantuuullll 👍

    BalasHapus
    Balasan
    1. Uadem maksud saya mbak wkwkwk

      Hapus
    2. Wkwkwk. Pie to saiki mah ws dadi arek suroboyo. Aku malah ngomong e pie pie wkwkwkw. Siap. Lanjut tulisan neh ngkuk doanya buk haha

      Hapus
  3. Balasan
    1. Aduhh lah piye ya mbloo wkwkwk. Ojo ngunulah, kita sesama. Toss disek.

      Hapus

Posting Komentar